Jalanan kota sangat padat oleh lalu
lalang orang – orang yang hilir mudik. Sangat tidak peduli akan apa yang
terjadi di sekitar. Debu polusi kian memanas, sehangat mentari yang selalu
menyinari. Gedung – gedung bertingkat seakan tiada habisnya. Membuat kota
semakin ramai atas kesibukan. Anak – anak jalanan semakin banyak, seiring
pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Semakin membabi buta tindak korupsi
yang melanda negeri ini. Jumlah pengangguran juga tidak kalah menarik. Survei
membuktikan bahwa 9,8 % jumlah angka pengangguran 2 tahun terakhir. Krisis ini
sangat mempengaruhi seluruh warga Indonesia.
Ani adalah salah satu anak pinggir
kota yang hidup dalam kemiskinan di jalanan. Biasa menjual beberapa antik kecil
yang dijajakan di kotak yang selalu dibawa
ketika lampu merah menyala. Setara dengan anak SMA tetapi mengundi nasib
di jalanan luas. Satu satunya kerabat yang dimiliki. Hanya ibu yang terbaring
lemah, merawat dan menemani sampai kini dewasa sedang ayah yang pergi hilang
melanglang buana meninggalkan mereka.
“Ibu.. Ani pergi dulu ya,”pamit Ani
seraya mencium tangan ibunda.
“Iya sayang, semoga hari ini Allah
memberikan rizki yang baik kepada kita hari ini” Sonya tergeletak, hanya
tersenyum lemah melihat anak yang sudah tumbuh dewasa. Betapa bangga halnya aku. Memiliki anak sholeha seperti Ani. Walau
seperak dua perak terkumpul demi menyongsong hidupku. Semoga Allah memberi
kemudahan untuk kami.
***
Belakang gedung SMAN 01 Jakarta tengah
dipenuhi pertikaian antar anak SMAN 01 dan SMAN 02. Dendam kesumat antar ketua
geng semakin membuat kebencian yang berjarak diantara kedua belah pihak. Joe
menyerang dengan pukulan keras untuk Rex ketua genk SMAN 02 itu, Rex yang
sempat mengelak melihat celah dan balas menerkam dengan pukulan tiba – tiba ke
arah perut Joe. Hanya terpental sedikit dan kembali membalas untuk melakukan
serangan. Begitu juga dengan anak buah mereka. Sampai akhirnya dua mobil polisi
sampai ke perkarangan tersebut. Lintang pukang meninggalkan area pertempuran
melesat jauh, sangat terlatih sehingga tak satu pun dari dua belah pihak yang
berhasil tertangkap.
“Bos, dimana bagianku ?” tanya Ujang
berbadan gembul meminta jatah karena berhasil mengalahkan beberapa anak buah
Rex.
“Heh gendut, loe baru membunuh 2
orang, sudah berlagak jagoan,” tertawa berbarengan dengan yang lain.
“Joe, nyokap loe pingsan di rumah
setelah menenggak racun” Riko menyampaikan pesan keburu sesak nafas karena
berlari terbirit birit.
“Apa loe bilang?” seketika itu
hanphone berdering. Ayah. “Apa yang
ayah lakukan?” maafkan Ayah Joe. “Kau
bukan Ayahku,” membentak mematikan saluran, meringgis dan menjerit.
Mobil sedan hitam BW15 kembali
meluncur di jalanan kota. Rumah sakit bernada putih itu kembali di pelupuk
mata. Sudah ketiga kalinya hal ini terjadi. Sejak ayah selalu meninggalkan ibu
dengan bermain dengan bayak perempuan lain.
“Ibu, jangan tinggalkan Joe ibu,”
mencium tangan ibu yang banyak dibalut infus. Ayah hanya berdiri di rungan itu.
Sangat membenci. Seketika menyuruhnya keluar dan jangan kembali. Joe hanya menangis tertahan duduk disamping
Ibu.
“Ibu, jangan tinggalkan aku ibu,”
Joe menangis menatap lemah ibu yang tengah terbaring beku. Garis – garis yang
sejak tadi berubah-ubah. Kini telah lurus horizontal. Kini tergugu menatap tak
percaya akan kenyataan. Penyesalan kian menuntut di akhir waktu ini. Tidak
datang ketika seharusnya. Teringat akan semua kenangan buruk.
***
“Joe,
loe ketua genk kita yang baru, loe kudu mencoba ini” seraya megacungkan puntung
rokok yang masih baru. Joe langsung mencoba dan disambut tertawa oleh anak –
anak yang lain. Jam pelajaran sekolah sering digunakan untuk ngumpul bareng
anak – anak. Tak jarang dipanggil kepala sekolah. Tapi tidak ada ketakutan di
dalam diri. Ayahnya adalah pemilik sekolah ini. Tidak kan ada guru yang terlalu
menghukum. Mereka bebas semakin menjadi – jadi.
Rumah seperti neraka. Setiap hari
akan ada pertengkaran – pertengkaran baru ibu dan ayah. Lingkungan siap
menerimanya. Teman – teman mengajari akhlak dan sifat. Rumah istana hanyalah
seonggok tempat tidur kesepian. Joe semakin beringas. Lebih benci ayah
dibanding ibu karena ayah adalah biang semua masalah ini.
Tetapi tetap saja masalah – masalah
Joe kerap mengganggu pikiran Kiruna waktu itu. Tidak tampak di mata Joe cinta
dalam diri Kiruna karena selalu memarahi anak satu – satunya tersebut. Serta
menyalahkan suami yang semena – mena. Kini tampak jelas semua di mata Joe.
***
Sore
itu ketika Ani sedang melayani pembeli salah satu antik kecilnya terjatuh,
pecah berhamburan. Sangat jarang dan aneh dan memutuskan untuk pulang.Lantas
saja Ibu yang selama ini sebagai motivasinya telah terbaring dingin.
Meninggalkan detak jantung yang biasa menemani. Ani menjerit, mengiba dan
meratap. Dia tidak terima akan semua. Kemiskinan yang melanda, ayah yang
berkhianat, Ibu yang pergi, tak kunjung berhenti penderitaan yang dialami.
Sebuah hari yang sangat panjang.
Alam
menangkap perjalanan panjang keduanya yang tengah mencari jalan hidup. Lihat
saja Ani tetap tidak menerima. Lantas hanya tergugu lemah meratapi nasibnya.
Sedang Joe menerima akan kenyataan. Ada secercah cahaya yang masuk menelubung
ke dalam hati Joe. Sehingga ia bisa tersenyum atas semua.
“Semua dari – Nya dan kembali
kepada – Nya. Pemegang amanah akan tetap menerima apapun yang tengah disuratkan
pada pemilik titahnya. Percayalah akan hal itu, cahaya itu akan selalu
berbicara padamu atas kebenaran didepan mata. Sungguh semua karenanya –Nya.”
Senang
dipanggil Princess. Lantas menjadikannya nama pena Princess Khodijah. Mempunyai
nama asli Fadhilah Muslimah. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa
antologi cerpen dan juga puisinya. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats,
@princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com
081377226311.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar