Minggu, 21 Februari 2016

Sehangat Senyuman





            Jalanan kota sangat padat oleh lalu lalang orang – orang yang hilir mudik. Sangat tidak peduli akan apa yang terjadi di sekitar. Debu polusi kian memanas, sehangat mentari yang selalu menyinari. Gedung – gedung bertingkat seakan tiada habisnya. Membuat kota semakin ramai atas kesibukan. Anak – anak jalanan semakin banyak, seiring pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Semakin membabi buta tindak korupsi yang melanda negeri ini. Jumlah pengangguran juga tidak kalah menarik. Survei membuktikan bahwa 9,8 % jumlah angka pengangguran 2 tahun terakhir. Krisis ini sangat mempengaruhi seluruh warga Indonesia.
            Ani adalah salah satu anak pinggir kota yang hidup dalam kemiskinan di jalanan. Biasa menjual beberapa antik kecil yang dijajakan di kotak yang selalu dibawa  ketika lampu merah menyala. Setara dengan anak SMA tetapi mengundi nasib di jalanan luas. Satu satunya kerabat yang dimiliki. Hanya ibu yang terbaring lemah, merawat dan menemani sampai kini dewasa sedang ayah yang pergi hilang melanglang buana meninggalkan mereka.
            “Ibu.. Ani pergi dulu ya,”pamit Ani seraya mencium tangan ibunda.
            “Iya sayang, semoga hari ini Allah memberikan rizki yang baik kepada kita hari ini” Sonya tergeletak, hanya tersenyum lemah melihat anak yang sudah tumbuh dewasa. Betapa bangga halnya aku. Memiliki anak sholeha seperti Ani. Walau seperak dua perak terkumpul demi menyongsong hidupku. Semoga Allah memberi kemudahan untuk kami.
***
            Belakang gedung SMAN 01 Jakarta tengah dipenuhi pertikaian antar anak SMAN 01 dan SMAN 02. Dendam kesumat antar ketua geng semakin membuat kebencian yang berjarak diantara kedua belah pihak. Joe menyerang dengan pukulan keras untuk Rex ketua genk SMAN 02 itu, Rex yang sempat mengelak melihat celah dan balas menerkam dengan pukulan tiba – tiba ke arah perut Joe. Hanya terpental sedikit dan kembali membalas untuk melakukan serangan. Begitu juga dengan anak buah mereka. Sampai akhirnya dua mobil polisi sampai ke perkarangan tersebut. Lintang pukang meninggalkan area pertempuran melesat jauh, sangat terlatih sehingga tak satu pun dari dua belah pihak yang berhasil tertangkap.
            “Bos, dimana bagianku ?” tanya Ujang berbadan gembul meminta jatah karena berhasil mengalahkan beberapa anak buah Rex.
            “Heh gendut, loe baru membunuh 2 orang, sudah berlagak jagoan,” tertawa berbarengan dengan yang lain.
            “Joe, nyokap loe pingsan di rumah setelah menenggak racun” Riko menyampaikan pesan keburu sesak nafas karena berlari terbirit birit.
            “Apa loe bilang?” seketika itu hanphone berdering. Ayah. “Apa yang ayah lakukan?” maafkan Ayah Joe. “Kau bukan Ayahku,” membentak mematikan saluran, meringgis dan menjerit.
            Mobil sedan hitam BW15 kembali meluncur di jalanan kota. Rumah sakit bernada putih itu kembali di pelupuk mata. Sudah ketiga kalinya hal ini terjadi. Sejak ayah selalu meninggalkan ibu dengan bermain dengan bayak perempuan lain.
            “Ibu, jangan tinggalkan Joe ibu,” mencium tangan ibu yang banyak dibalut infus. Ayah hanya berdiri di rungan itu. Sangat membenci. Seketika menyuruhnya keluar dan jangan kembali.  Joe hanya menangis tertahan duduk disamping Ibu.
            “Ibu, jangan tinggalkan aku ibu,” Joe menangis menatap lemah ibu yang tengah terbaring beku. Garis – garis yang sejak tadi berubah-ubah. Kini telah lurus horizontal. Kini tergugu menatap tak percaya akan kenyataan. Penyesalan kian menuntut di akhir waktu ini. Tidak datang ketika seharusnya. Teringat akan semua kenangan buruk.
***
“Joe, loe ketua genk kita yang baru, loe kudu mencoba ini” seraya megacungkan puntung rokok yang masih baru. Joe langsung mencoba dan disambut tertawa oleh anak – anak yang lain. Jam pelajaran sekolah sering digunakan untuk ngumpul bareng anak – anak. Tak jarang dipanggil kepala sekolah. Tapi tidak ada ketakutan di dalam diri. Ayahnya adalah pemilik sekolah ini. Tidak kan ada guru yang terlalu menghukum. Mereka bebas semakin menjadi – jadi.
            Rumah seperti neraka. Setiap hari akan ada pertengkaran – pertengkaran baru ibu dan ayah. Lingkungan siap menerimanya. Teman – teman mengajari akhlak dan sifat. Rumah istana hanyalah seonggok tempat tidur kesepian. Joe semakin beringas. Lebih benci ayah dibanding ibu karena ayah adalah biang semua masalah ini.
            Tetapi tetap saja masalah – masalah Joe kerap mengganggu pikiran Kiruna waktu itu. Tidak tampak di mata Joe cinta dalam diri Kiruna karena selalu memarahi anak satu – satunya tersebut. Serta menyalahkan suami yang semena – mena. Kini tampak jelas semua di mata Joe.
***
Sore itu ketika Ani sedang melayani pembeli salah satu antik kecilnya terjatuh, pecah berhamburan. Sangat jarang dan aneh dan memutuskan untuk pulang.Lantas saja Ibu yang selama ini sebagai motivasinya telah terbaring dingin. Meninggalkan detak jantung yang biasa menemani. Ani menjerit, mengiba dan meratap. Dia tidak terima akan semua. Kemiskinan yang melanda, ayah yang berkhianat, Ibu yang pergi, tak kunjung berhenti penderitaan yang dialami. Sebuah hari yang sangat panjang.
Alam menangkap perjalanan panjang keduanya yang tengah mencari jalan hidup. Lihat saja Ani tetap tidak menerima. Lantas hanya tergugu lemah meratapi nasibnya. Sedang Joe menerima akan kenyataan. Ada secercah cahaya yang masuk menelubung ke dalam hati Joe. Sehingga ia bisa tersenyum atas semua.
“Semua dari – Nya dan kembali kepada – Nya. Pemegang amanah akan tetap menerima apapun yang tengah disuratkan pada pemilik titahnya. Percayalah akan hal itu, cahaya itu akan selalu berbicara padamu atas kebenaran didepan mata. Sungguh semua karenanya –Nya.”

Senang dipanggil Princess. Lantas menjadikannya nama pena Princess Khodijah. Mempunyai nama asli Fadhilah Muslimah. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa antologi cerpen dan juga puisinya. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com 081377226311.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar