Hembusan angin yang beriak – riak
menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore
itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram.
Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina
yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman.
Anak
– anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada
mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu
apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke
rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di-setrap dan berjanji tidak akan
mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu.
Alam
bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,”
ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha
mendorong tubuh Nina hampir terjatuh. “Aduh.. Kamu ini ngagetin aja. Icha
gimana kalau kita buat rekaman puisi untuk Ibu. Sebentar lagi kan hari Ibu. Aku
ingin dia tersenyum kepadaku,” ujar Nina tiba – tiba. Icha masih bingung, tidak
pernah telintas di benaknya seperti itu.
***
“Aduh.. gimana sih cara buat puisi
?” sembari membuang kertas ke-20 seenaknya. Jika mereka yang melihat dua anak
kecil yang bergelantungan di atas pohon ceri. Maka tak lain adalah Nina dan
Icha. “ Buat saja lah, terserah hatimu Nina, toh ibu akan bangga apapun yang kau tulis,” Iya juga ya.. Ibu akan bangga.
Ibu
sayang terima kasih
Ibu
sayang maaf padamu
Ibu
sayang tutur rindu untukmu
Selamat
hari Ibu
Cintaku padamu
Sembari menunjukkan hasil, sekali
lagi aku celingak celinguk membayangkan wajah ibu tersenyum indah.
***
Sebuah rumah yang beratap teralih tebal.
Berdinding tembok kuat berwarna krim muda. Belum lagi bunga – bunga sekitarnya
mengisyaratkan kedamaian dan kesegaran. Tampak luas, bahagia, dan indah di
luar. Tapi lihatlah seorang ibu sedang terbaring lemah menahan sakit yang
selama ini dipendam. Suami yang selalu setia tak urung membuatnya memberi tahu.
Pergi pagi pulang malam membuat mereka tidak selalu terbuka tentang remeh
temeh. Tiga anak yang selalu pergi juga menjadi hambatan. Si Sulung Buyung
telah mendapat pasangan dan membangun rumah di Pekan Baru. Si Mega tengah
merantau menuntut Ilmu di Medan. Dan si bungsu Nina yang senang bermain.
Kadang
sakit membuatku lupa akan atas tugasku sebagai seorang Ibu, sehingga jarang aku
menasehati mereka yang tengah mencari
kebenaran sendiri. Kadang juga membuatku lupa akan seberapa pentingnya seorang
istri untuk suaminya. Hari ini tanggal 21 Desember. Tapi sakit ini semakin
parah..
***
Tanggal 22 Desember. Ruangan asri
putih itu dipenuhi kerabat yang hilir mudik. Bau obat – obatan terasa sangat
menyengat. Belum lagi para suster yang lalu lalang menambah banyak orang yang
berkunjung hari ini. Masih terlihat mata Nina yang sembab oleh air mata. Hari
ini Ibu seharusnya tengah melihat rekaman video serta dengan senyum manis itu.
Tetapi ibu sedang terbaring lemah.
“Ayah..” sembari memeluknya.
“Nina ingin menunjukkan video ini ke
Ibu” tunjuknya ke sebuah kamera Digital keluarga.
Demi melihat anaknya, ia bangga,
tersenyum mengacak rambut si kecil. “Perlihatkan saja kepada Ibu, walau Ibu
tampak tidak melihat tetapi Ibu melihat,” saran ayah
Hanya semenit ketidak percayaan itu.
Tetapi tidak salahnya mencoba. Di tengah kerumunan karib kerabat Nina
memperlihatkan video tersebut. Seolah Ibu akan melihat. Sangat tidak masuk akal
karena Ibu juga tidak beraksi apa apa. Nina kembali menangis.
Puisi
itu akan berkumandang seiring tumbuh kembangku. Penyesalan tiada kian berguna
sampai aku benar untuk berbeda. Walau kau tak tampak, aku akan selalu setia sampai batas waktu. Maafkan
aku yang selalu menyusahkanmu. Aku mencintaimu.
***
Mempunyai nama asli Fadhilah
Muslimah. Berminat dalam dunia tulis menulis. Serta tak luput untuk membuat
puisi – puisi indah. Tampak diam seolah dewasa tapi sangat periang di dalam. Akun
facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com
081377226311
Tidak ada komentar:
Posting Komentar