Minggu, 21 Februari 2016

SECARIK HARAPAN




            Hembusan angin yang beriak – riak menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram. Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman.
Anak – anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di-setrap dan berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu.
Alam bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,” ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha mendorong tubuh Nina hampir terjatuh. “Aduh.. Kamu ini ngagetin aja. Icha gimana kalau kita buat rekaman puisi untuk Ibu. Sebentar lagi kan hari Ibu. Aku ingin dia tersenyum kepadaku,” ujar Nina tiba – tiba. Icha masih bingung, tidak pernah telintas di benaknya seperti itu.
***
            “Aduh.. gimana sih cara buat puisi ?” sembari membuang kertas ke-20 seenaknya. Jika mereka yang melihat dua anak kecil yang bergelantungan di atas pohon ceri. Maka tak lain adalah Nina dan Icha. “ Buat saja lah, terserah hatimu Nina, toh ibu akan bangga apapun yang kau tulis,” Iya juga ya.. Ibu akan bangga.
            Ibu sayang terima kasih
            Ibu sayang maaf padamu
            Ibu sayang tutur rindu untukmu
            Selamat hari Ibu
Cintaku padamu
            Sembari menunjukkan hasil, sekali lagi aku celingak celinguk membayangkan wajah ibu tersenyum indah.
***
Sebuah rumah yang beratap teralih tebal. Berdinding tembok kuat berwarna krim muda. Belum lagi bunga – bunga sekitarnya mengisyaratkan kedamaian dan kesegaran. Tampak luas, bahagia, dan indah di luar. Tapi lihatlah seorang ibu sedang terbaring lemah menahan sakit yang selama ini dipendam. Suami yang selalu setia tak urung membuatnya memberi tahu. Pergi pagi pulang malam membuat mereka tidak selalu terbuka tentang remeh temeh. Tiga anak yang selalu pergi juga menjadi hambatan. Si Sulung Buyung telah mendapat pasangan dan membangun rumah di Pekan Baru. Si Mega tengah merantau menuntut Ilmu di Medan. Dan si bungsu Nina yang senang bermain.
Kadang sakit membuatku lupa akan atas tugasku sebagai seorang Ibu, sehingga jarang aku menasehati mereka yang tengah  mencari kebenaran sendiri. Kadang juga membuatku lupa akan seberapa pentingnya seorang istri untuk suaminya. Hari ini tanggal 21 Desember. Tapi sakit ini semakin parah..
***
            Tanggal 22 Desember. Ruangan asri putih itu dipenuhi kerabat yang hilir mudik. Bau obat – obatan terasa sangat menyengat. Belum lagi para suster yang lalu lalang menambah banyak orang yang berkunjung hari ini. Masih terlihat mata Nina yang sembab oleh air mata. Hari ini Ibu seharusnya tengah melihat rekaman video serta dengan senyum manis itu. Tetapi ibu sedang terbaring lemah.
            “Ayah..” sembari memeluknya.
            “Nina ingin menunjukkan video ini ke Ibu” tunjuknya ke sebuah kamera Digital keluarga.
            Demi melihat anaknya, ia bangga, tersenyum mengacak rambut si kecil. “Perlihatkan saja kepada Ibu, walau Ibu tampak tidak melihat tetapi Ibu melihat,” saran ayah
            Hanya semenit ketidak percayaan itu. Tetapi tidak salahnya mencoba. Di tengah kerumunan karib kerabat Nina memperlihatkan video tersebut. Seolah Ibu akan melihat. Sangat tidak masuk akal karena Ibu juga tidak beraksi apa apa. Nina kembali menangis.
            Puisi itu akan berkumandang seiring tumbuh kembangku. Penyesalan tiada kian berguna sampai aku benar untuk berbeda. Walau kau tak tampak, aku akan selalu setia sampai batas waktu. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku mencintaimu.
***
            Mempunyai nama asli Fadhilah Muslimah. Berminat dalam dunia tulis menulis. Serta tak luput untuk membuat puisi – puisi indah. Tampak diam seolah dewasa tapi sangat periang di dalam. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com 081377226311


Tidak ada komentar:

Posting Komentar