Minggu, 21 Februari 2016

Mutiara yang Hilang





          Aku terhempas dalam jaring dunia yang gelap dan kejam. Menyeretku kedalam dunia antah berantah. Tersuruk di dalamnya, terperangkap dan terjerumus. Tak ada yang menghalang dan melarang. Terhimpit dalam kenyamanan dunia, maya akan kegelapan. Hati kecil menjerit hentikan semua, tapi nafsu membentak ingin menang dan kuasa atas segala yang ada hingga tak bisa terlepas darinya. Aku hanya teriris tanpa ada hati yang tersakiti. Tanpa air mata dan perasaan. Nanar tiada tara tersembunyi dalam lorong hitam pukat. Dunia sangat ironis dan tak beralasan membiarkanku seorang diri di bumi tua nan gersang ini.Sungguh aku tak inginkan hidup ini.
            Aku anak tunggal yang tidak diinginkan orang tuaku untuk hidup. Kehadiranku sungguh bencana besar bagi kedua orang tuaku yang tidak terikat dengan ikatan suci perkawinan. Di hari itu pula, satu mataku kehilangan cahaya terang dan kekuatan untuk bisa dibuka secara utuh sehingga hanya terlihat satu mata yang bersinar terang dalam keremangan malam. Aku semakin membenci hidup.
            Tak mudah hidup tanpa cahaya penerang bagi seorang gadis muda sehingga salah pergaulan. Terhempas lagi aku dalam hening suram nan kejam. Orang tua yang selalu memarahi dan memukul dengan atau tanpa alasan. Aku semakin tumbuh dewasa dengan penampilan sebagai seorang cowok. Aku pergi ke Padang untuk kabur dari rumah kejam itu. Mengambil S1 jurusan Seni Budaya. Aku terbebas dari neraka itu tetapi aku masih terpenjara dengan hati yang berdusta akan seperti ini. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya.
            “Hai namaku Dila” sapanya bertemu di toilet kampus. Aku meirik dan terkejut jumpa dengan orang memiliki nama seperti namaku.
            “ Oi, Aku Dila juga, sama nama kita” kataku histeris. “Waw.. mantap, kamu jurusan apa ?” “Aku jurusan seni rupa, kalau kamu?” “Aku Bahasa Inggris, Waw aku jadi pengen deket ni samamu aku anak Medan, kamu dari mana” “Aku dari Jakarta”. “ Mantap mantap boleh gak aku sering datang ke kosmu” “Boleh dung masa gak boleh, He he..”. Dimana ?”.” Di Jalan Cendrawasih no 11”. “Ok Bay The Way nama panjangku Fadhilah Muslimah, kamu?”. ”Aku Dila Insani”  aku melihat senyum indahnya bersinar di hatinya yang tulus memberi. Seperti melihat sesuatu yang berbeda darinya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Punggungnya yang menyinari sekitar dengan memakai kostum putih dari jilbab sampai sepatunya yang putih bersih melangkah pergi jauh dariku, sangat nyaman lima menit bersamanya tidak seperti teman genk rokokku yang aku selalu ada bersama mereka.
Balap liar  dan judi tak ubahnya seperti santapan malam. Tugas kampus banyak yang tak terselesaikan. Aku bagai hati yang beku berjalan di atas bumi. Hari ketujuh setelah pertemuan itu. Dia datang ke kos petak kecil yang penuh dengan bungkus rokok dan bir dimana mana, tampak juga beberapa helai baju yang teronggok di atas dipan tua tak terurus. Dia terlihat santai dan tidak takut akanku yang berambut pendek ala anak geng cowok dan semua yang ada disini, dengan santai dia menatapku dan sekeliling dengan tersenyum.
“Assalamu’alaikum Dila” sapanya rama sembari mendekat ke arahku, aku hanya tersenyum, sudah lama sekali aku tidak lagi mendengar salam. Tertegun sambil menjawab terpatah patah salam itu. Dia mengajari cara menjawabnya. Terlihat wajah bersinar itu lagi. Kami bercerita, senda gurau seperti teman lama yang sudah lama berpisah, Tiga puluh menit terasa sangat cepat bagiku. Deru azan Dzuhur melanglang di mushola paling ujung jalan ini. Aku melanjutkan bermain laptop. Dia izin untuk mengambil wudhu dan sholat di kamar ini. Sungguh tak pernah aku melaksanakannya walau aku dilahirkan muslim. Gerak geriknya tak luput dari pengamatan dan awas mata.
“Gak sholat Dil?”. “Enggak, aku gak pernah sholat dari kecil” jawabku skenanya Terlihat hanya senyum manis yang tersengging disana. Dia pamit pulang dan berjanji akan datang lagi minggu depan di waktu yang sama, aku tidak keberatan karena merasa nyaman berada di dekatnya.
Seminggu berlalu janji itu datang juga. Kami hanya bercakap – cakap ringan. Dia selalu sama ketika azhan Dzuhur dia  bersegera melaksanakan sholat begitu juga aku melanjutkan permainan game di komputer dengan menghisap sebatang rokok Magnum. Melihatku seperti itu dia hanya tersenyum hangat dan menatap sendu dari pelupuk matanya. Pamit pulang dan berjanji kembali akan datang minggu depan. Begitu seterusnya dia selalu datang dan sholat Dzhur disini.
Minggu ini dia datang sebelum maghrib. Aku membubarkan komplotanku yang bertendang di kos ketika dia menghampiri. Kami bercerita sejenak dan dia sholat maghrib dengan mengeraskan suaranya.
Lantunan itu sangat menyentuh hingga ke ubun ubun tulang hati. Berirama penuh hayat tinggi bak suara indah dan damai. Bagai melihat seluruh kesalahan yang pernah kubuat. Lihatlah air mata ini menetes. Tak ingat kapan terakhir kali aku meneteskan air mata. Tidak, aku tidak mengerti. Lantunan itu seperti berbicara pada mata batin yang selama ini belum terjamah oleh perasaan. Sesuatu di luar kendali menghantamkanku ke dalam kesadaran tingkat tinggi akanku sebenarnya. Aku  terhempas dalam kenyataan. Sampai dia mengucapkan salam.
Demi melihat mataku yang berkaca kaca, dia semakin bersinar menerangiku menatap bahagia ke arahku. Dia mengucapkan kata kata yang akan menjadikan penyejuk hatiku
”Saudaraku, kau adalah mutiara yang tengah hilang dan akan segera menerangi dunia ini. Kau adalah setetes embun yang tak dinyana memberikan kenyamanan di hati para pecintanya. Kau adalah saudara terbaikku”
Aku tersenyum ke arahnya. Melihat jauh terawang ke depan apa yang akan terjadi selanjutnya. Senyuman itu bagai sengatan lebah yang akan selalu menyetrumku untuk ingat selalu kepada – Nya. Mata ini berjanti akan selalu bersamanya dalam dakwah Islam dengan memulainya dengan pembelajaran Islam dengan iman dan taqwa. Terima kasih untuk saudaraku yang telah menjadi guru terbaik. 

Dia adalah seorang hamba-Nya yang sedang tertatih untuk mencari petunjuknya.Dia Fadhilah Muslimah atau biasa disebut sebagai Princess Khodijah. Lahir di Pematangsiantar Sumatra Utara. Dua puisi indahnya sudah termuat di majalah kecamatan Langkat Binjai dan Cerpennya yang berjudul Cahaya yang Sempat Hilang sudah menghiasi buku Ayah, ajari aku penerbit Pena Indis. Info emailnya fadhilahmuslimah@yahoo.com, Nama akun facebook Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija. Dapat menghubungi nomor 081377226311

SECARIK HARAPAN




            Hembusan angin yang beriak – riak menerbangkan dedaunan yang hilir mudik terbawa suasana indahnya pepohonan sore itu. Tampak nyata sesuai pemilik hati yang melihat. Sangat nyaman, tentram. Angin barat membuat mood seseorang akan berubah lebih baik. Tak terkecuali Nina yang duduk di ayunan. Berteduh di bawah pohon dan teman yang masih bermain di taman.
Anak – anak kelas 1 SD itu masih setia dengan ayunan masing – masing. Tapi ada mendung di wajah Nina. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya. Kau tahu apa ? Tak dinyana, dia sedang memikirkan ibu yang marah ketika ia pergi ke rumah teman tanpa izin. Masih mengingat bagaimana dia di di-setrap dan berjanji tidak akan mengulangi. Begitu juga sering membantah kepada Ibu ketika disuruh sesuatu.
Alam bangga akan Nina. Kecil itu sudah berfikir tentang dewasa. “Nina, ayo pulang,” ajak Icha teman mainnya. Yang ditanya masih tetap melamun. Lantas Icha mendorong tubuh Nina hampir terjatuh. “Aduh.. Kamu ini ngagetin aja. Icha gimana kalau kita buat rekaman puisi untuk Ibu. Sebentar lagi kan hari Ibu. Aku ingin dia tersenyum kepadaku,” ujar Nina tiba – tiba. Icha masih bingung, tidak pernah telintas di benaknya seperti itu.
***
            “Aduh.. gimana sih cara buat puisi ?” sembari membuang kertas ke-20 seenaknya. Jika mereka yang melihat dua anak kecil yang bergelantungan di atas pohon ceri. Maka tak lain adalah Nina dan Icha. “ Buat saja lah, terserah hatimu Nina, toh ibu akan bangga apapun yang kau tulis,” Iya juga ya.. Ibu akan bangga.
            Ibu sayang terima kasih
            Ibu sayang maaf padamu
            Ibu sayang tutur rindu untukmu
            Selamat hari Ibu
Cintaku padamu
            Sembari menunjukkan hasil, sekali lagi aku celingak celinguk membayangkan wajah ibu tersenyum indah.
***
Sebuah rumah yang beratap teralih tebal. Berdinding tembok kuat berwarna krim muda. Belum lagi bunga – bunga sekitarnya mengisyaratkan kedamaian dan kesegaran. Tampak luas, bahagia, dan indah di luar. Tapi lihatlah seorang ibu sedang terbaring lemah menahan sakit yang selama ini dipendam. Suami yang selalu setia tak urung membuatnya memberi tahu. Pergi pagi pulang malam membuat mereka tidak selalu terbuka tentang remeh temeh. Tiga anak yang selalu pergi juga menjadi hambatan. Si Sulung Buyung telah mendapat pasangan dan membangun rumah di Pekan Baru. Si Mega tengah merantau menuntut Ilmu di Medan. Dan si bungsu Nina yang senang bermain.
Kadang sakit membuatku lupa akan atas tugasku sebagai seorang Ibu, sehingga jarang aku menasehati mereka yang tengah  mencari kebenaran sendiri. Kadang juga membuatku lupa akan seberapa pentingnya seorang istri untuk suaminya. Hari ini tanggal 21 Desember. Tapi sakit ini semakin parah..
***
            Tanggal 22 Desember. Ruangan asri putih itu dipenuhi kerabat yang hilir mudik. Bau obat – obatan terasa sangat menyengat. Belum lagi para suster yang lalu lalang menambah banyak orang yang berkunjung hari ini. Masih terlihat mata Nina yang sembab oleh air mata. Hari ini Ibu seharusnya tengah melihat rekaman video serta dengan senyum manis itu. Tetapi ibu sedang terbaring lemah.
            “Ayah..” sembari memeluknya.
            “Nina ingin menunjukkan video ini ke Ibu” tunjuknya ke sebuah kamera Digital keluarga.
            Demi melihat anaknya, ia bangga, tersenyum mengacak rambut si kecil. “Perlihatkan saja kepada Ibu, walau Ibu tampak tidak melihat tetapi Ibu melihat,” saran ayah
            Hanya semenit ketidak percayaan itu. Tetapi tidak salahnya mencoba. Di tengah kerumunan karib kerabat Nina memperlihatkan video tersebut. Seolah Ibu akan melihat. Sangat tidak masuk akal karena Ibu juga tidak beraksi apa apa. Nina kembali menangis.
            Puisi itu akan berkumandang seiring tumbuh kembangku. Penyesalan tiada kian berguna sampai aku benar untuk berbeda. Walau kau tak tampak, aku akan selalu setia sampai batas waktu. Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu. Aku mencintaimu.
***
            Mempunyai nama asli Fadhilah Muslimah. Berminat dalam dunia tulis menulis. Serta tak luput untuk membuat puisi – puisi indah. Tampak diam seolah dewasa tapi sangat periang di dalam. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com 081377226311


Sehangat Senyuman





            Jalanan kota sangat padat oleh lalu lalang orang – orang yang hilir mudik. Sangat tidak peduli akan apa yang terjadi di sekitar. Debu polusi kian memanas, sehangat mentari yang selalu menyinari. Gedung – gedung bertingkat seakan tiada habisnya. Membuat kota semakin ramai atas kesibukan. Anak – anak jalanan semakin banyak, seiring pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia. Semakin membabi buta tindak korupsi yang melanda negeri ini. Jumlah pengangguran juga tidak kalah menarik. Survei membuktikan bahwa 9,8 % jumlah angka pengangguran 2 tahun terakhir. Krisis ini sangat mempengaruhi seluruh warga Indonesia.
            Ani adalah salah satu anak pinggir kota yang hidup dalam kemiskinan di jalanan. Biasa menjual beberapa antik kecil yang dijajakan di kotak yang selalu dibawa  ketika lampu merah menyala. Setara dengan anak SMA tetapi mengundi nasib di jalanan luas. Satu satunya kerabat yang dimiliki. Hanya ibu yang terbaring lemah, merawat dan menemani sampai kini dewasa sedang ayah yang pergi hilang melanglang buana meninggalkan mereka.
            “Ibu.. Ani pergi dulu ya,”pamit Ani seraya mencium tangan ibunda.
            “Iya sayang, semoga hari ini Allah memberikan rizki yang baik kepada kita hari ini” Sonya tergeletak, hanya tersenyum lemah melihat anak yang sudah tumbuh dewasa. Betapa bangga halnya aku. Memiliki anak sholeha seperti Ani. Walau seperak dua perak terkumpul demi menyongsong hidupku. Semoga Allah memberi kemudahan untuk kami.
***
            Belakang gedung SMAN 01 Jakarta tengah dipenuhi pertikaian antar anak SMAN 01 dan SMAN 02. Dendam kesumat antar ketua geng semakin membuat kebencian yang berjarak diantara kedua belah pihak. Joe menyerang dengan pukulan keras untuk Rex ketua genk SMAN 02 itu, Rex yang sempat mengelak melihat celah dan balas menerkam dengan pukulan tiba – tiba ke arah perut Joe. Hanya terpental sedikit dan kembali membalas untuk melakukan serangan. Begitu juga dengan anak buah mereka. Sampai akhirnya dua mobil polisi sampai ke perkarangan tersebut. Lintang pukang meninggalkan area pertempuran melesat jauh, sangat terlatih sehingga tak satu pun dari dua belah pihak yang berhasil tertangkap.
            “Bos, dimana bagianku ?” tanya Ujang berbadan gembul meminta jatah karena berhasil mengalahkan beberapa anak buah Rex.
            “Heh gendut, loe baru membunuh 2 orang, sudah berlagak jagoan,” tertawa berbarengan dengan yang lain.
            “Joe, nyokap loe pingsan di rumah setelah menenggak racun” Riko menyampaikan pesan keburu sesak nafas karena berlari terbirit birit.
            “Apa loe bilang?” seketika itu hanphone berdering. Ayah. “Apa yang ayah lakukan?” maafkan Ayah Joe. “Kau bukan Ayahku,” membentak mematikan saluran, meringgis dan menjerit.
            Mobil sedan hitam BW15 kembali meluncur di jalanan kota. Rumah sakit bernada putih itu kembali di pelupuk mata. Sudah ketiga kalinya hal ini terjadi. Sejak ayah selalu meninggalkan ibu dengan bermain dengan bayak perempuan lain.
            “Ibu, jangan tinggalkan Joe ibu,” mencium tangan ibu yang banyak dibalut infus. Ayah hanya berdiri di rungan itu. Sangat membenci. Seketika menyuruhnya keluar dan jangan kembali.  Joe hanya menangis tertahan duduk disamping Ibu.
            “Ibu, jangan tinggalkan aku ibu,” Joe menangis menatap lemah ibu yang tengah terbaring beku. Garis – garis yang sejak tadi berubah-ubah. Kini telah lurus horizontal. Kini tergugu menatap tak percaya akan kenyataan. Penyesalan kian menuntut di akhir waktu ini. Tidak datang ketika seharusnya. Teringat akan semua kenangan buruk.
***
“Joe, loe ketua genk kita yang baru, loe kudu mencoba ini” seraya megacungkan puntung rokok yang masih baru. Joe langsung mencoba dan disambut tertawa oleh anak – anak yang lain. Jam pelajaran sekolah sering digunakan untuk ngumpul bareng anak – anak. Tak jarang dipanggil kepala sekolah. Tapi tidak ada ketakutan di dalam diri. Ayahnya adalah pemilik sekolah ini. Tidak kan ada guru yang terlalu menghukum. Mereka bebas semakin menjadi – jadi.
            Rumah seperti neraka. Setiap hari akan ada pertengkaran – pertengkaran baru ibu dan ayah. Lingkungan siap menerimanya. Teman – teman mengajari akhlak dan sifat. Rumah istana hanyalah seonggok tempat tidur kesepian. Joe semakin beringas. Lebih benci ayah dibanding ibu karena ayah adalah biang semua masalah ini.
            Tetapi tetap saja masalah – masalah Joe kerap mengganggu pikiran Kiruna waktu itu. Tidak tampak di mata Joe cinta dalam diri Kiruna karena selalu memarahi anak satu – satunya tersebut. Serta menyalahkan suami yang semena – mena. Kini tampak jelas semua di mata Joe.
***
Sore itu ketika Ani sedang melayani pembeli salah satu antik kecilnya terjatuh, pecah berhamburan. Sangat jarang dan aneh dan memutuskan untuk pulang.Lantas saja Ibu yang selama ini sebagai motivasinya telah terbaring dingin. Meninggalkan detak jantung yang biasa menemani. Ani menjerit, mengiba dan meratap. Dia tidak terima akan semua. Kemiskinan yang melanda, ayah yang berkhianat, Ibu yang pergi, tak kunjung berhenti penderitaan yang dialami. Sebuah hari yang sangat panjang.
Alam menangkap perjalanan panjang keduanya yang tengah mencari jalan hidup. Lihat saja Ani tetap tidak menerima. Lantas hanya tergugu lemah meratapi nasibnya. Sedang Joe menerima akan kenyataan. Ada secercah cahaya yang masuk menelubung ke dalam hati Joe. Sehingga ia bisa tersenyum atas semua.
“Semua dari – Nya dan kembali kepada – Nya. Pemegang amanah akan tetap menerima apapun yang tengah disuratkan pada pemilik titahnya. Percayalah akan hal itu, cahaya itu akan selalu berbicara padamu atas kebenaran didepan mata. Sungguh semua karenanya –Nya.”

Senang dipanggil Princess. Lantas menjadikannya nama pena Princess Khodijah. Mempunyai nama asli Fadhilah Muslimah. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa antologi cerpen dan juga puisinya. Akun facebook : Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija, fadhilahmuslimah@yahoo.com 081377226311.