Aku terhempas dalam jaring
dunia yang gelap dan kejam. Menyeretku kedalam dunia antah berantah. Tersuruk
di dalamnya, terperangkap dan terjerumus. Tak ada yang menghalang dan melarang.
Terhimpit dalam kenyamanan dunia, maya akan kegelapan. Hati kecil menjerit
hentikan semua, tapi nafsu membentak ingin menang dan kuasa atas segala yang
ada hingga tak bisa terlepas darinya. Aku hanya teriris tanpa ada hati yang
tersakiti. Tanpa air mata dan perasaan. Nanar tiada tara tersembunyi dalam
lorong hitam pukat. Dunia sangat ironis dan tak beralasan membiarkanku seorang
diri di bumi tua nan gersang ini.Sungguh aku tak inginkan hidup ini.
Aku anak tunggal yang tidak
diinginkan orang tuaku untuk hidup. Kehadiranku sungguh bencana besar bagi kedua
orang tuaku yang tidak terikat dengan ikatan suci perkawinan. Di hari itu pula,
satu mataku kehilangan cahaya terang dan kekuatan untuk bisa dibuka secara utuh
sehingga hanya terlihat satu mata yang bersinar terang dalam keremangan malam.
Aku semakin membenci hidup.
Tak
mudah hidup tanpa cahaya penerang bagi seorang gadis muda sehingga salah
pergaulan. Terhempas lagi aku dalam hening suram nan kejam. Orang tua yang
selalu memarahi dan memukul dengan atau tanpa alasan. Aku semakin tumbuh dewasa
dengan penampilan sebagai seorang cowok. Aku pergi ke Padang untuk kabur dari
rumah kejam itu. Mengambil S1 jurusan Seni Budaya. Aku terbebas dari neraka itu
tetapi aku masih terpenjara dengan hati yang berdusta akan seperti ini. Sampai
akhirnya aku bertemu dengannya.
“Hai namaku Dila” sapanya bertemu di
toilet kampus. Aku meirik dan terkejut jumpa dengan orang memiliki nama seperti
namaku.
“ Oi, Aku Dila juga, sama nama kita”
kataku histeris. “Waw.. mantap, kamu jurusan apa ?” “Aku jurusan seni rupa,
kalau kamu?” “Aku Bahasa Inggris, Waw aku jadi pengen deket ni samamu aku anak
Medan, kamu dari mana” “Aku dari Jakarta”. “ Mantap mantap boleh gak aku sering
datang ke kosmu” “Boleh dung masa gak boleh, He he..”. Dimana ?”.” Di Jalan
Cendrawasih no 11”. “Ok Bay The Way nama panjangku Fadhilah Muslimah, kamu?”.
”Aku Dila Insani” aku melihat senyum
indahnya bersinar di hatinya yang tulus memberi. Seperti melihat sesuatu yang
berbeda darinya yang tak pernah kulihat sebelumnya. Punggungnya yang menyinari
sekitar dengan memakai kostum putih dari jilbab sampai sepatunya yang putih
bersih melangkah pergi jauh dariku, sangat nyaman lima menit bersamanya tidak
seperti teman genk rokokku yang aku selalu ada bersama mereka.
Balap
liar dan judi tak ubahnya seperti
santapan malam. Tugas kampus banyak yang tak terselesaikan. Aku bagai hati yang
beku berjalan di atas bumi. Hari ketujuh setelah pertemuan itu. Dia datang ke
kos petak kecil yang penuh dengan bungkus rokok dan bir dimana mana, tampak
juga beberapa helai baju yang teronggok di atas dipan tua tak terurus. Dia
terlihat santai dan tidak takut akanku yang berambut pendek ala anak geng cowok
dan semua yang ada disini, dengan santai dia menatapku dan sekeliling dengan
tersenyum.
“Assalamu’alaikum
Dila” sapanya rama sembari mendekat ke arahku, aku hanya tersenyum, sudah lama
sekali aku tidak lagi mendengar salam. Tertegun sambil menjawab terpatah patah
salam itu. Dia mengajari cara menjawabnya. Terlihat wajah bersinar itu lagi.
Kami bercerita, senda gurau seperti teman lama yang sudah lama berpisah, Tiga
puluh menit terasa sangat cepat bagiku. Deru azan Dzuhur melanglang di mushola
paling ujung jalan ini. Aku melanjutkan bermain laptop. Dia izin untuk
mengambil wudhu dan sholat di kamar ini. Sungguh tak pernah aku melaksanakannya
walau aku dilahirkan muslim. Gerak geriknya tak luput dari pengamatan dan awas
mata.
“Gak
sholat Dil?”. “Enggak, aku gak pernah sholat dari kecil” jawabku skenanya Terlihat
hanya senyum manis yang tersengging disana. Dia pamit pulang dan berjanji akan
datang lagi minggu depan di waktu yang sama, aku tidak keberatan karena merasa
nyaman berada di dekatnya.
Seminggu
berlalu janji itu datang juga. Kami hanya bercakap – cakap ringan. Dia selalu sama
ketika azhan Dzuhur dia bersegera melaksanakan
sholat begitu juga aku melanjutkan permainan game di komputer dengan menghisap
sebatang rokok Magnum. Melihatku seperti itu dia hanya tersenyum hangat dan menatap
sendu dari pelupuk matanya. Pamit pulang dan berjanji kembali akan datang
minggu depan. Begitu seterusnya dia selalu datang dan sholat Dzhur disini.
Minggu
ini dia datang sebelum maghrib. Aku membubarkan komplotanku yang bertendang di
kos ketika dia menghampiri. Kami bercerita sejenak dan dia sholat maghrib
dengan mengeraskan suaranya.
Lantunan
itu sangat menyentuh hingga ke ubun ubun tulang hati. Berirama penuh hayat
tinggi bak suara indah dan damai. Bagai melihat seluruh kesalahan yang pernah
kubuat. Lihatlah air mata ini menetes. Tak ingat kapan terakhir kali aku
meneteskan air mata. Tidak, aku tidak mengerti. Lantunan itu seperti berbicara
pada mata batin yang selama ini belum terjamah oleh perasaan. Sesuatu di luar
kendali menghantamkanku ke dalam kesadaran tingkat tinggi akanku sebenarnya.
Aku terhempas dalam kenyataan. Sampai
dia mengucapkan salam.
Demi
melihat mataku yang berkaca kaca, dia semakin bersinar menerangiku menatap
bahagia ke arahku. Dia mengucapkan kata kata yang akan menjadikan penyejuk
hatiku
”Saudaraku, kau adalah mutiara yang
tengah hilang dan akan segera menerangi dunia ini. Kau adalah setetes embun
yang tak dinyana memberikan kenyamanan di hati para pecintanya. Kau adalah
saudara terbaikku”
Aku
tersenyum ke arahnya. Melihat jauh terawang ke depan apa yang akan terjadi
selanjutnya. Senyuman itu bagai sengatan lebah yang akan selalu menyetrumku
untuk ingat selalu kepada – Nya. Mata ini berjanti akan selalu bersamanya dalam
dakwah Islam dengan memulainya dengan pembelajaran Islam dengan iman dan taqwa.
Terima kasih untuk saudaraku yang telah menjadi guru terbaik.
Dia
adalah seorang hamba-Nya yang sedang tertatih untuk mencari petunjuknya.Dia
Fadhilah Muslimah atau biasa disebut sebagai Princess Khodijah. Lahir di Pematangsiantar Sumatra Utara. Dua
puisi indahnya sudah termuat di majalah kecamatan Langkat Binjai dan Cerpennya
yang berjudul Cahaya yang Sempat Hilang sudah
menghiasi buku Ayah, ajari aku penerbit Pena Indis. Info emailnya fadhilahmuslimah@yahoo.com, Nama
akun facebook Fadhilah Muslimah Ats, @princesskhodija.
Dapat menghubungi nomor 081377226311