Selasa, 19 April 2016

MIMPI NYATA





Pesawat yang kunaiki ini tinggal lepas landas pagi ini. Segera mengencangkan sabuk pengaman. Lagi-lagi aku ke benua Eropa terus menanam bibit bibit kecil tanaman mimpi yang selalu tertulis di buku agendaku. Adik kecil dua bangku disebelah terus saja menangis. Kasihan melihatnya. Ibunya berusaha membujuk agar diam takut mengganggu sekitar. Sejak dari tadi telepon genggam telah di-non aktifkan­-kan. Akan ada banyak panggilan tak terjawab dari beberapa korelasi bisnisku. Managerku pun tak kalah sibuknya. Sejenak saja agar aku menenangkan pikiran walau tetap akan ada pertemuan disana.
Kuinjakkan kaki di negeri antah berantah ini. Menara Eiffel itu tampak berdiri kokoh tanpa  bantuan. Benar saja banyak panggilan tak terjawab itu, tapi tunggu, ada satu panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal, nomor yang selama ini samar samar dalam ingatan. Langung saja aku mencoba menelpon balik.               
“Assalamu’alaikum Adam, ini aku Ridwan” suara itu terdengar jelas, sontak aku akannya. Kembali terulang kenangan bersamanya. Hening sebentar. Betapa aku sangat merindukannya. Suara itu terus saja memanggil namaku, hampir terjatuh air mata ini.
Wa’alaikum Salam Warohmatullah Wabarokatuh Ridwan, Apa kabar kamu Ridwan, Kenapa kamu hilang dan muncul tiba-tiba?” jawabku girang bukan kepalang
“He..he..baik, sory sory selama ini aku gak ada menghubungimu, aku mendengar kamu sekarang berada di Prancis, aku mencari-cari nomormu, aku berada di Prancis juga sekarang, ayo datang ke rumahku, istriku akan memasakkan makanan lezat untuk menyambut tamu istimewa,” jelasnya padaku
Aku kaget, senang, bahagia bercampur baur. Aku sangat menyayangi saudaraku itu. Segera aku mencatat alamat rumahnya. Setelah pertemuan penting itu akan aku akan segera pergi mengunjunginya.
***
“Adam, bagaimana ini aku ndak mengerti,” eluhnya padaku. Segera menoleh kearahnya. Materi tentang Comparison membuatnya pusing. Aku menjelaskan padanya dengan bahasa yang mudah dimengerti. Alhamdulillah ternyata dia mengerti dengan baik.
Lantas saja dia selalu mengeluh kepadaku bahwa dia adalah satu dari banyaknya Mahasiswa yang salah pilih jurusan. Gurunyalah yang memilihkannya masuk ke jurusan Bahasa Inggris, prodi pendidikan. Kami kenal sejak awal masuk pendaftaran ulang Universitas Negeri Padang. Langsung saja mencari kamar kost bareng. Sejak itu awal pertemanan hingga persahabatan. Suka duka empat tahun bersama.
Aku dan Ridwan saling bahu membahu dalam menyelesaikan tugas kuliah. Masalah organisasi pun, kami sama. Tak jarang kami menyukai teman wanita yang sama. Tetapi kami kurang setuju dengan pacaran, jadi kami hanya berteman dengannya saja tidak lebih. Menurut kami pacaran akan menambah biaya hidup kami yang masih belum bekerja ini, sabarlah dahulu pasti ada jalannya di kemudian hari.
Tubuh tinggi atletis Ridwan ditambah dengan dua gingsul yang tampak jika ia tersenyum kadang membuat teman-teman wanita kami terpukau akannya, belum lagi kulitnya yang putih bersih menambah daya tariknya. Tetapi mereka hanya meneguk ludah karena Ridwan tidak ingin pacaran terlebih dahulu.
Sedang aku yang bertubuh kurus tinggi dengan kulit tak seputih Ridwan. Urat wajah tegas mengesankan bahwa aku seorang yang berwibawa. Menurutku wajahku juga enak dipandang. He he itu menurutku.
            Semester satu yang menyenangkan. Aku dan Ridwan magang di organisasi EDEC English Debating Community. Senin sampai jum’at jadwal kuliah sedang sabtu dan minggu jadwal latihan debat di lokasi EDEC.
            I don’t agree with Government pay the begger to go out from the city because.. ee.. They go into.. ee.. the other city will.. ee.. be a begger again.. ee.. No usefull to Indonesia” kataku masih tidak lancar berbahasa inggris kala aku latihan debat sore siang itu.
Ridwan tak kalah menarik hampir setengah yang diucapkannya masih berbahasa Indonesia. Tetapi itulah kami. Selalu latihan dengan semangat. Tugas kami hanyalah berusaha memperlancar bahasa Inggris kami walau sering membuat grammar hancur tak berbekas. Walau bahasa inggris menjadi korban atas pem-bully-an kami.
 Aku yakin Orang Inggris tidak mengerti apa yang sedang kami ucapkan. He he.. itu tidak masalah buat kami. Teman kami yang lain mencemooh menganggap bodoh dengan speaking kami yang buruk. Kau tahu kawan, itulah yang kami jadikan motivasi agar selalu menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari hari.
“Adam ada lomba debat di Riau bulan Maret nanti, ayo kita ikut” kata Ridwan semangat mengebu-gebu dia sangat yakin di semester dua ini kami lebih mampu berbahasa dengan baik.
“Iya – iya, ayo, bagaimana dengan biayanya?, tidak mungkin aku meminta orang tuaku, sudah cukup mereka pusing memikirkan uang kuliah tunggalku” tanyaku ragu
“Tenang saja masalah proposal sudah diurus, kita terbang saja” jawabnya santai.
            Seungging senyum kuberikan untuknya. Kami langsung mengurus tentang jadwal pemberangkan dan menambah sesi latihan debat kami. Di sela sela jadwal kuliah kami latihan dengan sungguh sungguh.
            Michel, anak dari ibu yang berdarah Indonesia sedang ayah berasal dari Amerika itu sangat tidak suka akan kesungguhan kami. Tentu saja bahasa Inggrisnya lancar sama seperti bahasa Indonesianya. Dia juga mengikuti lomba itu. Tetapi sifat sombongnya telah menipu banyak hal tentang dirinya.
Masuk, diam menelikung dan tajam menyingkirkan. Sangat tidak senang jika yang mendapatkan beasiswa atau IP tertinggi di kelas tidak dia. Melihat kami sangat bersungguh-sungguh ia sering mengolok dari belakang dan dari depan.
Kami tahu persis bagaimana sifatnya itu. Kami hanya mendiamkannya. Lomba itu semakin dekat. Besok kami akan berangkat.
***
Apa tadi kataku kawan, sifat sombongnya akan menipu banyak hal akannya. Dia tidak memenangkan lomba debat itu, begitu juga dengan kami. Paling tidak kekalahannya sedikit banyak menutup mulutnya yang banyak mencemooh teman-teman yang lain. Semoga dia bisa berubah. Sekarang dia malu berinteraksi dengan teman-teman. Lomba demi lomba selalu kami ikutin bersama dalam semester dua ini. Dimana-mana seantreo Indonesia ini.
Tetapi belum ada satu lomba pun yang kami menangkan. Pantang menyerah, tetap usaha dan sabar itu motto kami. Michel hanya geleng – geleng kepala melihat kami yang selalu mengikuti berbagai kompetisi, sejak kompetisi di Riau itu dia tidak mengikuti lomba debat lagi.
Kami hanya tersenyum selalu menerima kekalahan kami yang sudah ke tujuh kali ini. Yakin dengan yang akan didapat sebagai buah dari kegagalan.
Setelah berjuang mendapatkan IP tinggi 3,5 sedang Ridwan 3,2 di semester dua. Kami menyambut semester tiga dengan suka cita. Bahagia menelusuk ke dalam jiwa tertanam kuat hingga ke akar – akarnya. Senyum indah terkuak kembali.
Benar saja, Sudah setahun terakhir ini kami berjuang keras hingga di kompetisi debat di Malang untuk pertama kalinya kami memenangkannya. Teman teman yang dahulu mencemooh kami hanya terkejut mendengar kabar, lantas tak menghiraukan, ya seperti angin lalu. Tidak sadar dengan segala apa yang telah mereka ucapkan.
Kompetisi demi kompetisi kami ikuti, menang kalah selalu berada di tangan. Hingga kami mencoba ke tingkat ASEAN, Kami juga mencoba tawaran beasiswa bagi Mahasiswa yang IP > 3,5 di semester selanjutnya.
Buah demi buah kegagalan kami dapatkan sampai kami wisuda dengan gelar Cumlaude di tanganku, Ibu dan bapak datang dari Medan melihat anak muda nan gagah ini memakai Toga kebanggaan. Ibu dan ayah menitikkan air mata buatku. Mereka kecup keningku. Sungguh air mataku tidak dapat ditahan. Aku menangis bahagia.
Aku lulus dalam penawaran beasiswa S2 di Edenberg Univercity di Inggris. Sedangkan Ridwan mengambil S2 IAIN jurusan Tafsir Inggris di Jakarta. Sejak pergi ke Inggris, sejak itu pula aku putus hubungan dengan Ridwan. Semua akun media tidak dapat menghubunginya. Aku tidak tahu sebab musababnya.
***
Lamunanku terputus ketika taksi yang kunaiki ini telah sampai di tempat yang kutuju. Kampus di Prancis ini sangat megah dan besar. Sebentar lagi aku akan berhadapan dengan mahasiswa – mahasiswa intelektual di Negeri ini. Mr. Adam mereka memanggilku sebagai dosen terbang Bahasa Inggris mereka. Ini sudah keberapa kalinya aku ke kampus ini.
Beberapa aset usahaku seperti perkebunan kelapa sawit dan teh telah berkembang di Indonesia. Aku adalah dosen tetap di Universitas Andalas dan sering dipanggil ke berbagai Universitas di dunia. Namaku Adam Syarif telah di kenal sebagai dosen berintelektual yang tinggi dan berkualitas.
Sedangkan aku bertemu dengan kekasih hatiku di Padang bernama Siti Nurhayati. Sejak dua tahun bersama kami diberikan satu anak laki – laki yang manis. Sungguh sangat indah dunia ini menurutku.
Setelah pertemuan itu aku langsung menuju rumah Ridwan. Peluk erat, sangat hangat. Betapa aku sangat merindukannya. Dia mendapatkan kekasih hati berdarah Prancis ternyata. Sungguh sangat beruntung. Tentu saja yang beragama Islam. Aku tahu, ceritanya pasti tidak kalah menarik dengan ceritaku. Sungguh malam – malam indah bersama.
***
Kau tahu kawan, tidak banyak orang yang percaya ceritaku. Tapi ketahuilah bahwa ini nyata. Aku sangat menjunjung tinggi nilai nilai kebaikan dalam hidup. Berfikir positif adalah kuncinya. Tentu saja dengan penanaman ilmu agama yang baik membuahkan pribadi yang semangat dunia dan akhirat. Salam Sukses teman.
Usaha adalah langkah awal sukses dan sabar adalah langkah keduanya, sedang langkah ketiga dan selanjutnya adalah sabar, sabar dan sabar, niscaya langkah terakhir adalah titik kesuksesan, sedang sombong dan gengsi hanya akan menghancurkan sukses”



Princess Khodijah telah lama menyukai dunia tulis menulis baik menulis cerpen maupun puisi. Dapat menghubunginya melalui akun facebook Fadhilah Muslimah Ats, fadhilahmuslimah@yahoo.com twitter : @princesskhodija 081377226311